Pages

Subscribe:

Wednesday, March 28, 2012

pemikiran kalam murji'ah

ILMU KALAM MURJI'AH

BAB I

PENDAHULUAN

1.      Latar Belakang
Sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa ilmu kalam adalah ilmu yang membahas tentang ajaran-ajaran dasar dari suatu agama yaitu setiap orang yang mendalami agamanya secara mendalam. Mempelajari ilmu kalam akan memberikan keyakinan yang kuat terhadap seseorang dengan berdasarkan pada Al-Qur’an dan Al-Hadits yang tidak mudah diombang-ambing oleh kemajuan zaman.
Islam tidaklah sesempit yang dipahami pada umumnya, dalam sejarah terlihat bahwa Islam yang bersumber pada Al-Qur’an dan As-Sunnah dapat berhubungan dengan masyarakat luas.
Akidah pada saat Rasulullah wafat telah melekat dengan kokoh dalam hati setiap muslim, mereka hidup dalam ikatan persatuan yang sangat kuat, penuh dengan kesucian dan kemuliaan. Namun, setelah itu mulai bermunculan bid’ah-bid’ah seperti bid’ahnya aliran Murji’ah. Kemunculan Murji’ah pada mulanya ditimbulkan oleh persoalan politik, tegasnya persoalan khilafah yang membawa perpecahan dikalangan umat Islam setelah Usman bin Affan terbunuh. Dalam makalah ini akan dibahas tentang sejarah, tokoh-tokoh, sekte-sekte, doktrin-doktrin dan implikasi pemikiran kalam Murji’ah dalam kehidupan sehari-hari.
Aliran Murji’ah muncul sebagai reaksi atas sikapnya yang tidak mau terlibat dalam upaya kafir mengkafirkan terhadap orang yang melakukan dosa besar. Setelah berkembangnya aliran ini banyak sekali para ulama yang menyatakan bahwa aliran ini sesat dan menyimpang dari ajaran agama.

2.      Rumusan Masalah

    Apa pengertian dari kalam Murji’ah?
    Bagaimana sejarah awal mula berkembangnya pemikiran kalam Murji’ah?
    Apa dalil-dalil Pemikiran Kalam Murji’ah?
    Apa saja doktrin-doktrin kalam Murji’ah?
    Siapa pelopor pemikiran kalam Murji’ah dan doktrin-doktrinnya?
    Apakah ada sekte-sekte pada kalam Murji’ah?
    Bagaimana implikasi pemikiran kalam Murji’ah dalam kehidupan sehari-hari?

3.      Tujuan Pembahasan
Adapun tujuan dari pembahasan ini adalah agar mahasiswa mengetahui:

    Pengertian dari kalam Murji’ah;
    Sejarah awal mula berkembangnya pemikiran kalam Murji’ah;
    Dalil-dalil Pemikiran Kalam Murji’ah;
    Doktrin-doktrin kalam Murji’ah;
    Pelopor pemikiran kalam Murji’ah;
    Sekte-sekte kalam Murji’ah;
    Implikasi pemikiran kalam Murji’ah dalam kehidupan sehari-hari;


4.      Manfaat Pembahasan
Adapun manfaat pembahasan dalam makalah ini adalah selain sebagai bahan presentasi juga agar mahasiswa lebih mengetahui pemikiran-pemikiran kalam khususnya tentang pemikiran kalam Murji’ah serta implikasinya dalam kehidupan sehari-hari.

BAB II
PEMBAHASAN


A.    Pengertian Murji’ah
Murji’ah diambil dari kata irja atau arja’a. Ada beberapa pendapat tentang arti arja’a, diantaranya ialah:
a)      Menurut Ibn ‘Asakir, dalam uraiannya tentang asal-usul kaum Murji’ah mengatakan bahwa arja’a berarti menunda. Dinamakan demikian karena mereka itu berpendapat bahwa masalah dosa besar itu ditunda penyelesaiannya sampai hari perhitungan nanti, kita tidak dapat menghukumnya sebagai orang kafir.
b)      Ahmad Amin dalam kitabnya Fajr al-Islam mengatakan bahwa arja’a juga mengandung arti membuat sesuatu, mengambil tempat-tempat dibelakang, dalam arti memandang sesuatu kurang penting. Dinamakan sesuatu kurang penting, sebab yang penting adalah imannya. Amal adalah nomor dua setelah iman.
c)      Selanjutnya, Ahmad Amin juga mengatakan bahwa arja’a juga mengandung arti memberi pengharapan. Dinamakan demikian, karena di antara kaum Murji’ah ada yang berpendapat bahwa orang Islam yang melakukan dosa besar itu tidak berubah menjadi kafir, ia tetap sebagai mukmin, dan kalau ia dimasukkan ke dalam neraka, maka ia tidak kekal didalamnya. Dengan demikian orang yang berbuat dosa besar masih mempunyai pengharapan akan dapat masuk surga. [1]
d)      Al Azhari menyebutkan perihal kata-kata Raja’ yang mempunyai arti ‘takut’ yaitu apabila  lafadz Raja’ bersama dengan huruf  nafi.[2]
Dari pengertian-pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa pemikiran kalam Murji’ah merupakan suatu aliran yang berpendapat bahwa orang yang melakukan dosa besar tidaklah menjadi kafir, akan tetapi tetap mukmin. Dan urusan dosa besar yang telah dilakukan ditunda penyelesaiannya sampai hari kiamat.

B.     Sejarah awal mula pemikiran kalam Murji’ah.
Ada beberapa teori yang berkembang mengenai asal-usul kemunculan Murji’ah, diantaranya ialah:
1)      Mengatakan bahwa gagasan irja atau arja’a dikembangkan oleh sebagian sahabat dengan tujuan menjamin persatuan dan kesatuan umat Islam ketika terjadi pertikaian politik dan juga bertujuan untuk menghindari sektarianisme.
2)      Mengatakan bahwa gagasan irja atau arja’a, yang merupakan basis doktin Islam, muncul pertama kali sebagai gerakan politik yang diperlihatkan oleh cucu Ali bin Abi Thalib, Al-Hasan bin Muhammad Al-Hanafiyah, sekitar tahun 695. Penggagas teori ini adalah Watt. Watt menegaskan teori ini menceritakan bahwa 20 tahun setelah kematian Muawiyah pada tahun 680 H, dunia Islam dikoyak oleh pertikaian sipil. Al-Mukhtar membawa faham syi’ah ke Kufah dari tahun 685-687 H. Ibnu Zubair mengklaim kekhalifahan yang ada di Mekah hingga yang berada di bawah kekuasaan Islam. Sebagai respon dari keadaan ini, muncul gagasan irja atau penangguhan. Gagasan ini pertama kali digunakan sekitar tahun 695 H oleh cucu Ali bin Abi Thalib, Al-Hasan bin Muhammad Al-Hanafiyah, dalam sebuah surat pendeknya, dalam surat itu, Al-Hasan menunjukkan sikap politiknya dengan mengatakan,”kita mengakui Abu Bakar dan Umar, tetapi menangguhkan keputusan atas persoalan yang terjadi pada konflik sipil pertama yang melibatkan Usman, ‘Ali dan Zubair (seorang tokoh pembelot ke Mekah).” Dengan sikap politik ini Al-Hasan mencoba menanggulangi perpecahan umat Islam. Ia kemudian mengelak berdampingan dengan kelompok Syi’ah revolusioner yang terlampau mengagungkan ‘Ali dan para pengikutnya, serta menjauhkan diri dari Khawarij yang menolak mengakui kekhalifahan Mu’awiyah dengan alasan bahwa ia adalah keturunan si pendosa Usman.[3]
3)      Mengatakan bahwa munculnya aliran ini di latar belakangi oleh persoalan politik, yaitu persoalan khilafah (kekhalifahan). Setelah terbunuhnya Khalifah Usman bin Affan, umat Islam terpecah kedalam dua kelompok besar, yaitu kelompok Ali dan Mu’awiyah. Kelompok Ali lalu terpecah pula kedalam dua golongan, yaitu golongan yang setia membela Ali (disebut Syiah) dan golongan yang keluar dari barisan Ali (disebut Khawarij). Ketika berhasil mengungguli dua kelompok lainnya, yaitu Syiah dan Khawarij, dalam merebut kekuasaan, kelompok Mu’awiyah lalu membentuk Dinasti Umayyah. Syi’ah dan Khawarij bersama-sama menentang kekuasaannya. Syi’ah menentang Mu’awiyah karena menuduh Mu’awiyah merebut kekuasaan yang seharusnya milik Ali dan keturunannya. Sementara itu Khawarij tidak mendukung Mu’awiyah karena ia dinilai menyimpang dari ajaran Islam. Dalam pertikaian antara ketiga golongan tersebut terjadi saling mengafirkan. Di tengah-tengah suasana pertikaian ini muncul sekelompok orang yang menyatakan diri tidak ingin terlibat dalam pertentangan politik yang terjadi. Kelompok inilah yang kemudian berkembang menjadi golongan Murji’ah. Bagi mereka sahabat-sahabat yang terlibat dalam pertentangan karena peristiwa tahkim itu tetap mereka anggap sebagai sahabat-sahabat Nabi yang dapat dipercaya keimanannya. Oleh karena itu mereka tidak menyatakan siapa yang sebenarnya salah, tetapi mereka lebih baik menunda persoalan tersebut, dan menyerahkannya kepada tuhan pada hari perhitungan di hari kiamat nanti, apakah mereka menjadi kafir atau tidak.[4]




C.    Dalil-dalil Pemikiran Kalam Murji’ah
r  Dalil Alqur’an
v  Firman Allah:

إِنَّ اللهَ لايَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَآء  
“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu.” [5]

v  Firman Allah:
قُلْ يَاعِبَادِي الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنفُسِهِمْ لاَ تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللهِ إِنَّ اللهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang melampui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah,sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya, sesungguhnya Dialah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”[6]

v  Mereka  layaknya Jahmiyyah yang telah memperhatikan  pengumpulan nash yang menjadikan  keimanan dan kekufuran seluruhnya terletak  pada hati. Sebagaimana firman Allah:
  أُوْلاَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ اْلإِيمَانَ
"Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan.”[7]
  إِلاَّ مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِاْلإِيمَانِ
"Kecuali orang-orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa)."[8]
خَتَمَ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ
"Allah telah mengunci mati hati mereka."[9]
 Juga masih banyak lagi ayat-ayat semisal yang secara dhahir dalam pengertian ini yang diambil oleh orang-orang Murji’ah untuk digunakan sebagai penguat madzhab mereka meskipun sebenarnya ayat-ayat itu tidak cocok serta tidak sesuai dengan apa yang mereka maksudkan itu.

r  Dalil Dari Sunnah
Mereka berhujjah dengan sebagian hadits dan atsar, yang secara dhahir  menunjukkan atas  perintah untuk menjauhi syirik  dan keberadaan iman  dalam  hati  seseorang untuk menggapai kejayaan dan  keridhaan Allah:
v  Rasululllah SAW bersabda:
مَنْ مَاتَ يُشْرِكُ بِالله ِشَيْئا دَخَلَ النَّارَ.   قَالَ إِبْنُ مَسْعُوْدٍ:  وَقُلْتُ أَنَّا مَنْ مَاتَ  لَا يُشْرِكُ بِالله ِشَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ.
“Barang siapa yang mati dalam keadaan menyekutukan Allah dengan sesuatu maka ia akan masuk neraka”,  Ibnu Mas’ud berkata: “Saya katakan: "Barang siapa yang mati dalam keadaan tidak menyekutukan Allah maka ia masuk Jannah.” [10]
v  Dalam hadits qudsi  Rasulullah SAW meriwayatkan dari Allah: 
يَا ابْنُ أَدَ مَ اِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِيْ  بِقِرَابِ اْلَأرْضِ خَطَايًا ثُمَّ لَقَيْتَـــنِيْ لَا تُشْرِكُ بِي شَيْئًا لَأَ تَـيْتُــكَ  بِقِرَابِهَا   مَغْفِرَةً
“Hai anak Adam, sesungguhnya jika kamu mendatangi-Ku dengan dosa sepenuh bumi, kemudian menemui Aku tanpa berbuat syirik  sedikit pun, sungguh Aku akan mendatangimu dengan maghfirah yang sebanding.”[11]
v Nabi SAW bersabda:
اللَّهُمَّ ثّبِّتْ قَـْلبِيْ عَلَى دِيْنِكَ
 “ Ya  Allah, tetapkanlah hatiku pada dien-Mu.”[12]
v  Demikian juga dalam hadits  yang mengisahkan tentang seorang budak perempuan  yang ditanya oleh Rasullah SAW dengan sabdanya: “Di mana Allah?”  Maka jawabnya: “Di langit”, Maka Rasullah SAW berkata kepada tuannya:  “Bebaskanlah dia karena dia adalah seorang Mu’minah.”[13]
v  Rasululllah  SAW bersabda:
“Taqwa itu ada di sini, seraya menunjuk pada dadanya tiga kali.”[14]
v  Dan  termasuk dalil mereka juga ialah  tentang hadits syafa’ah dari Mushthafa SAW kepada  beberapa kaum  yang kemudian Allah mengeluarkan mereka  sampai  tiada sebiji atom atau sebiji gandum atau sebiji tepung pun iman yang tersisa  dalam hatinya, Di dalamnya terdapat  potongan sabda beliau SAW: “Maka Allah  berfirman, bahwa malaikat telah memberi syafa’at, para Nabi pun memberi syafa’at, demikian juga  para mukmin dan tiada yang tertinggal  kecuali pasti memberikan rahmatnya. Maka dikeluarkanlah satu kaum  dari neraka yang mana mereka belum pernah melakukan  sebuah kebajikan sama sekali kemudian mereka masuk sebuah tempat pemandian lalu dimasukkan ke dalam sebuah sungai yang berada di mulut syurga yang dinamai dengan  Nahrul hayat. Lalu mereka keluar dari sungai tersebut seperti  sebuah biji  yang terbawa ombak....”,  sampai pada  sabda beliau: “Maka keluarlah mereka seperti  permata,  yang pada  lutut mereka ada cincin yang bisa  dikenal oleh  penghuni syurga. Mereka itulah orang-orang yang Allah bebaskan dan masukkan ke dalam syurga  tanpa amal dan  tanpa kebaikan.”[15]
                  Orang-oang Murji’ah berdalil dengan hadits ini untuk menguatkan  faham mereka  dengan  mengambil ungkapan dari hadits di atas:
1.           Mereka sama sekali belum pernah berbuat  amal baik.
2.            Mereka adalah orang-orang yang  Allah bebaskan, kemudian dimasukkan  kedalam syurga   tanpa sebuah amal yang mereka kerjakan .
Kemudian  orang Murji’ah  berkomentar, kalau saja  mereka bisa masuk syurga tanpa amalan sedikit pun, lalu bagaimana kalau mereka punya amalan?. Maka jawabnya  menurut mereka  adalah bahwa  mereka itu masih menyisakan  tashdiq  dan hal tersebut bermanfaat bagi mereka  tanpa harus melihat pada  amalan karena  hakekat iman  itu menurut Murji’ah adalah tidak sampai pada amalan.
v  Dan termasuk syubhat yang mereka  pergunakan juga ialah  bahwa  amalan  bukan  termasuk  dalam iman, sesuai dengan pendapat mereka:
1.           Kafir itu berlawanan dengan iman. Maka selama ada kekafiran, keimanan akan hilang dan demikian juga sebaliknya.
2.           Ada banyak nash yang menerangkan tentang pemalingan amalan atas iman.
v  Sedangkan dalil  para pengikut Hanafi adalah: bahwasanya iman ialah perkataan dan i’tikad  saja sedangkan amalan tidak termasuk di dalamnya, cukuplah amalan itu hanya sebagai  bagian dari syari’at Islam yang apabila seseorang melakukan sebuah kemaksiatan maka berkuranglah syari’at Islamnya dan amalan bukanlah termasuk tashdiq terhadap Islam. dalil mereka  adalah:
1.           Bahwa yang dimaksud iman secara bahasa ialah tashdiq saja, sedangkan amal badan  tidak disebut  sebagai bagian dari iman.
2.           Andaikata  amalan itu merupakan bagian dari iman dan tauhid niscaya wajib dihukum di saat  tiada iman bagi orang yang kehilangan  sebagian dari  amalannya. Dan dalam hal ini Imam Abu Hanifah  berkata  dalam  bukunya (Al Washiyyah): “Amalan itu bukan merupakan bagian dari iman dan iman itu bukanlah amalan”, dengan dalil bahwa banyak  waktu yang mengangkat amalan dari seorang mukmin. Pada saat itu tidak boleh  dikatakan bahwa imannya hilang. Maka seorang wanita yang haidh yang dicabut darinya  kewajiban shalat,  tidak boleh dikatakan bahwa imannya juga dicabut.”[16]

D.    Doktrin-doktrin Murji’ah.
Ajaran-ajaran pokok Murji’ah pada dasarnya bersumber dari gagasan atau doktrin irja atau arja’a yang diaplikasikan dalam banyak persoalan, baik persoalan politik maupun teologis.
Berkaitan dengan doktrin teologi Murji’ah, W. Montgomery Watt merincinya sebagai berikut:
1.      Penangguhan keputusan terhadap Ali dan Muawiyah hingga Allah memutuskannya di Akhirat kelak.
2.      Penangguhan Ali untuk menduduki ranking keempat dalam peringkat Al-Khalifah Ar-Rasyidin.
3.      Pemberian harapan (giving of hope) terhadap orang muslim yang  berdosa besar untuk memperoleh ampunan dan rahmat dari Allah.
4.      Doktrin-doktrin Murji’ah menyerupai pengajaran (Madzhab) para skeptis dan empiris dari kalangan Helenis.[17]
Sementara itu, Abu ‘A’la Al-Maududi menyebutkan dua doktrin pokok ajaran Murji’ah, yaitu:
1.      Iman adalah percaya kepada Allah dan Rasul-Nya saja. Adapun amal atau perbuatan tidak merupakan suatu keharusan bagi adanya iman. Berdasarkan hal ini, seseorang tetap dianggap mukmin walaupun meninggalkan perbuatan yang difardukan dan melakukan dosa besar.
2.      Dasar keselamatan adalah iman semata. Selama masih ada iman di hati, setiap maksiat tidak dapat mendatangkan madarat ataupun gangguan atas seseorang. Untuk mendapat pengampunan manusia cukup hanya dengan menjauhkan diri dari Syirik dan mati dalam keadaan akidah tauhid.[18]
Berkaitan dengan doktrin teologi Murji’ah menurut Harun Nasution menyebutkan ajaran pokoknya yaitu :
1.      Menunda hukuman atas Ali, Muawwiyah, Amr bin Ash, dan Musa al Asy ‘ary yang terlibat tahkim dan menyerahkannya kepada Allah di hari akhir kelak.
2.      Menyerahkan keputusan kepada Allah atas orang muslim yang berdosa besar.
3.      Meletakkan pentingnya iman daripada amal.
4.      Memberikan pengharapan kepada muslim yang berdosa besar untuk memperoleh ampunan di sisi Allah.[19]
Dari doktrin-doktrin teologi Murji’ah yang dikemukakan oleh W. Montgomery Watt, Abu ‘A’la Al-Maududi, Harun Nasution dapat kita simpulkan bahwa doktrin-doktrin Murji’ah sebagai berikut:
r  Penangguhan hukum atas Ali, Muawiyah, Amr bin Ash, dan Musa al Asy ‘ary yang terlibat tahkim
r  Iman itu adalah tashdiq ( pembenaran ) saja, atau pengetahuan hati atau ikrar.
r  Amal tidak masuk dalam hakekat iman dan tidak masuk dalam bagiannya. Mereka ( Murji’ah ) berkata “ iman adalah membenarkan dalam hati atau membenarkan dalam hati dan di ungkapkan dengan lisan. Adapun amal, menurut mereka merupakan syarat kesempurnaan iman saja dan tidak masuk di dalam pengertian iman. Barangsiapa yang membenarkan dengan hatinya dan mengucapkan dengan lisannya, maka dia adalah seorang beriman yang sempurna imannya menurut mereka, walau dia telah meninggalkan perbuatan–perbuatan yang berupa meninggalkan kewajiban, mengerjakan keharaman, dia berhak masuk surga meskipun belum beramal kebaikan sama sekali. Menetapkan atas hal itu ketetapan–ketetapan yang bathil, seperti : membatasi kekufuran dengan kufur takdzib (kufur bohong) dan menganggap halal hanya dengan hati.”(Majmu’ Fatawa Al Lajnah Ad Daimah )
r  Iman tidak bisa berkurang atau bertambah.
r  Orang yang bermaksiat dikatakan mukmin yang sempurna imannya. Sebagaimana sempurnanya tashdiq di akhirat kelak tidak akan masuk ke neraka. Bahkan perbuatan kafir dan zindiq tak sedikitpun membahayakan keimanan seorang muslim.
r  Manusia pencipta amalnya sendiri dan Allah tidak dapat melihatnya di akhirat nanti ( ini seperti faham mu’tazilah ).
r  Sesungguhnya imamah ( khalifah ) itu boleh datang dari golongan mana saja walaupun bukan dari Quraisy.
r  Iman adalah mengena Allah secara mutlak, dan bodoh kepada Allah adalah kufur kepada – NYA

E.     Tokoh- tokoh Murji’ah.
Beberapa buku dan keterangan para ulama  menyatakan bahwa di antara tokoh-tokoh faham Murji’ah  adalah sebagai berikut :
r Jahm bin Shufwan, golongan Al-Jahmiyah,
r Abu Musa Ash-Shalahi,  golongan Ash-Shalihiyah
r Yunus As-Samary, golongan Al-Yunushiyah
r Abu Smar dan Yunus, golongan As-samriah
r Abu Syauban, golongan Asy-Syaubaniyah
r Abu Marwan Al-Ghailan bin Marwan Ad-Dimasqy, golongan Al-Ghailaniyah
r Al-Husain bin Muhammad An-Najr, golongan An-Najariyah
r Abu Haifah An-Nu’man, golongan Al-Hanafiyah
r Muhammad bin Syabib, golongan Asy-Syabibiyah
r Mu’adz Ath-Thaumi, golongan Al-Mu’aziyah
r Basr Al-Murisy, golongan Al-Murisiyah
r Muhammad bin Karam As-Sijistany, golongan Al-Kalamiyah[20]
Adapun pemimpin dari kaum Murji’ah adalah Hasan bin Bilal al Muzni, Abu Salat as Samman (meninggal 152 H.) Tsauban, Dhirar bin Umar. Penyair mereka yang terkenal pada masa Bani Umayah adalah Tsabit bin Quthanah, yang yang mengarang sebuah syair tentang i’tiqad dan kepercayaan kaum Murji’ah.[21]

F.     Sekte-sekte Murji’ah.
Kemunculan sekte-sekte dalam kelompok Murji’ah tampaknya dipicu oleh perbedaan pendapat (bahkan hanya dalam hal intensitas) dikalangan para pendukung Murji’ah sendiri.
Ibnul Jauzi mengatakan  bahwa Murji’ah terbagi menjadi  11 bagian:    
1.      At Tarikah
Mereka mengatakan: “Tidak ada  kewajiban bagi seorang hamba kepada Allah selain hanya  beriman saja. Barang siapa yang telah beriman kepada-Nya dan telah mengenal-Nya maka dia boleh berbuat sesukanya.”
2.      As Saibiah
Mereka mengatakan: “Sesungguhnya Allah  membiarkan hamba-Nya untuk berbuat sesukanya.”
3.      Ar Raji’ah
Mereka mengatakan: “Kami  tidak mengatakan taat bagi orang yang taat, dan juga tidak menyebut maksiat bagi orang yang melakukan perbuatan maksiat karena kami tidak mengetahui   kedudukan  mereka di sisi Allah.”
4.      Asy- Syakiah
Mereka mengatakan: “Sesungguhnya ketaatan itu bukanlah dari iman.”
5.      Baihasyiah  (nisbah pada  Baihasy bin Haisham)
Mereka mengatakan: “Iman itu adalah ilmu, barang siapa yang tidak mengetahui yang hak dan yang batil, juga tidak mengetahui halal dan haram maka dia telah kafir.”
6.      Manqushiah                                     
Mereka mengatakan: “Iman itu bertambah tapi tidak berkurang.”
7.      Mustatsniah
Mereka  adalah orang-orang yang menafikan, atau  “istitsna’“ (pengecualian) dalam hal keimanan.
8.      Musyabbihah
Mereka mengatakan: “Allah mempunyai  penglihatan  sebagaimana penglihatanku dan juga mempunyai tangan  sebagaimana tanganku.”
9.      Hasyawiah
Mereka menjadikan  hukum hadits semuanya adalah satu, dan menurut mereka  orang-orang yang meninggalkan amalan sunnah sama halnya dengan orang yang  meninggalkan  amalan fardhu.
10.   Dzahiriyah
Mereka adalah orang-orang yang menafikan (tidak menggunakan) qiyas.
11.  Bid’iyyah
Mereka adalah orang pertama yang memulai bid’ah pada ummat ini.[22]
Ghalib  Ali Awwaji dalam firaq muashirah membagi Murji’ah I’tiqadiyah  (secara keyakinan) menjadi beberapa bagian yang sangat banyak, akan tetapi yang beliau sebutkan hanyalah  secara garis besarnya saja sebagaimana yang telah disebutkan oleh Ulama Firaq:
1.      Murji’ah sunnah
Mereka adalah para pengikut Hanafi, termasuk di dalamnya adalah Abu Hanifah dan gurunya Hammad  bin Abi Sulaiman  juga orang-orang yang mengikuti mereka dari golongan Murji’ah Kufah dan yang lainnya. Mereka ini adalah  orang-orang  yang mengakhirkan amal dari hakekat iman.
2.      Murji’ah Jabariyah
Mereka adalah Jahmiyyah  (para pengikut Jahm bin Shafwan), Mereka  hanya mencukupkan diri dengan keyakinan dalam hati saja .Dan menurut mereka maksiat itu tidak berpengaruh pada iman  dan bahwasanya ikrar dengan lisan  dan amal bukan dari iman.
3.      Murji’ah Qadariyyah
Mereka adalah orang yang dipimpin oleh Ghilan Ad Damsyiki sebutan mereka Al Ghilaniah
4.      Murji’ah Murni
Mereka adalah kelompok yang oleh para ulama diperselisihkan jumlahnya.
5.      Murji’ah  Karamiah
Mereka adalah kawan-kawan Muhammad bin Karam, mereka berpendapat bahwa iman hanyalah ikrar dan pembenaran dengan lisan tanpa pembenaran dengan hati.
6.      Murji’ah Khawarij
Mereka adalah Syabibiyyah dan sebagian kelompok Shafariyyah yang tidak mempermasalahkan pelaku dosa besar.[23]
Menurut Harun Nasution pemikiran kalam Murji’ah dibagi menjadi dua sekte, yaitu:
r  Murji’ah moderat
Golongan ini berpendapat bahwa orang yang melakukan dosa besar itu tidak menjadi kafir karenanya, dan tidak kekal dalam neraka. Orang tersebut akan dihukum dalam neraka sesuai dengan besarnya dosa yang ia kerjakan. Bahkan apabila ia mengampuni dosanya itu ada kemungkinan ia tidak masuk neraka sama sekali. Jadi, menurut golongan ini orang Islam yang melakukan dosa besar itu masih tetap mukmin. Tokoh-tokoh yang termasuk dalam golongan murj’ah adalah Al-Hasan bin Muhammad.bin Ali bin Abi Thalib, Abu Hanifah, Abu Yusuf, dan beberapa ahli Hadits.[24]
r  Murji’ah ekstrim
Adapun yang termasuk kelompok ekstrim adalah Al-Jahmiyah, Ash-Shalihiyah, Al-Yunusiyah, Al-Ubaidiyah, dan Al-Hasaniyah. Pandangan tiap-tiap kelompok itu dapat dijelaskan seperti berikut:
1.      Jahmiyah, kelompok Jahm bin Shafwan dan para pengikutnya, berpandangan bahwa orang yang percaya kepada Tuhan kemudian menyatakan kekufurannya secara lisan, tidaklah menjadi kafir karena iman dan kufur itu bertempat di dalam hati bukan pada bagian lain dalam tubuh manusia.
2.      Shalihiyah, kelompok Abu Hasan Ash-Shalihi, berpendapat bahwa iman adalah mengetahui Tuhan, sedangkan kufur adalah tidak tahu Tuhan. Salat bukan merupakan ibadah kepada Allah. Yang disebut ibadah adalah iman kepada-Nya dalam arti mengetahhui Tuhan. Begitu pula zakat, puasa, dan haji bukanlah ibadah, melainkan sekedar menggambarkan kepatuhan.
3.      Yunusiah dan Ubaidiyah melontarkan pernyataan bahwa melakukan maksiat atau perbuatan jahat tidaklah merusak iman seseorang. Mati dalam iman, dosa-dosa dan perbuatan-perbutan jahat yang tidaklah merugikan orang yang bersangkutan. Dalam hal ini, mutaqil bin Sulaiman berpendapat bahwa perbutan jahat, banyak atau sedikit, tidak merusak iman seseorang sebagai musyrik.
4.      Hasaniyah, menyebutkan bahwa seseorang mengatakan, “saya tahu tuhan melarang makan babi, tetapi saya tidak, apakah babi yang diharamkan itu adalah kambing ini,” maka orang tersebut tetap mukmin, bukan kafir. Begitu pula orang yang mengatakan “saya tahu tuhan mewajibkan naik haji ke Ka’bah, tetapi saya tidak tahu apakah ka’bah di India atau di tempat lain.[25]

G.    Implikasi Pemikiran Kalam Murji’ah dalam kehidupan sehari-hari
Implikasi buruk pemikiran kaum Murji’ah dalam kehidupan sehari-hari, diantaranya:
1.      Sebagai satu kebid’ahan, maka Murji`ah bila masuk dalam aqidah kaum muslimin dapat memporak-porandakan persatuan dan kesatuannya. Sebab kebid’ahan bila muncul dan berkembang dalam tubuh umat Islam akan menimbulkan permusuhan dan kebencian diantara mereka. Hal ini karena pelaku kebid’ahan akan membela kebid`ahanya, padahal Sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pasti ada pendukung yang menegakkannya. Dengan demikian umat akan terpecah.
2.      Membuat pemilik aqidahnya masuk dalam 72 golongan yang diancam masuk neraka dalam sabda Rasulullah Shallallahu’alahi Wasallam :

إِنَّ مَنْ قَبْلَكُمْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ افْتَرَقُوا عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً وَإِنَّ هَذِهِ الْمِلَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ ثِنْتَانِ وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَهِيَ الْجَمَاعَةُ

 “Sesungguhnya orang sebelum kalian dari ahli kitab telah berpecah belah dalam 72 golongan dan sungguh umat ini akan pecah menjadi 73 golongan; 72 golongan di neraka dan satu disyurga yaitu al-Jama’ah” (HR Abu Daud).

Membuat banyak hukum Islam yang hilang yang merupakan satu sebab hilangnya syari’at dan membuat kerusakan pada keindahan Islam yang merupakan sebab orang berpaling dan tidak mengagungkan syari’at Allah. Ini merupakan salah satu dampak buruk kebid’ahan secara umum dan Murji`ah masuk didalamnya.
3.      Telah berdusta atas nama Allah dan memiliki pemikiran yang telah dicela seluruh ulama. Imam al-Ajuri (wafat tahun 360H) menyatakan, “Siapa yang memiliki pemikiran seperti ini (Irja`) maka telah berdusta atas nama Allah dan membawa lawannya kebenaran serta sesuatu yang sangat diingkari seluruh ulama, karena pemilik pemikiran ini menganggap bahwa orang yang telah mengucapkan La Ilaha Illa Allah maka dosa besar yang dilakukannya dan kekejian yang ia laksanakan tidak merusaknya sama sekali dan menurutnya orang yang baik dan takwa yang tidak melakukan sedikitpun hal-hal tersebut dengan orang yang fajir adalah sama. Ini jelas kemungkaran. Allah berfirman:

أَمْ حَسِبَ الَّذِينَ اجْتَرَحُوا السَّيِّئَاتِ أَنْ نَجْعَلَهُمْ كَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَوَاءً مَحْيَاهُمْ وَمَمَاتُهُمْ ۚ سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ

 “Apakah orang-orang yang membuat kejahatan itu menyangka bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, Yaitu sama antara kehidupan dan kematian mereka? Amat buruklah apa yang mereka sangka itu” (QS. Al-Jatsiaat: 21) dan firman Allah Ta’ala :

أَمْ حَسِبَ الَّذِينَ اجْتَرَحُوا السَّيِّئَاتِ أَنْ نَجْعَلَهُمْ كَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَوَاءً مَحْيَاهُمْ وَمَمَاتُهُمْ ۚ سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ
 “Patutkah Kami menganggap orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi? Patutkah (pula) Kami menganggap orang- orang yang bertakwa sama dengan orang-orang yang berbuat ma’siat?” (QS. Shaad: 28).
4.      Meyakini bahwa amalan tidak mempengaruhi imannya, sehingga banyak orang menyatakan bahwa yang penting adalah hatinya dalam berbuat kemaksiatan seakan-akan perbuatan tersebut tidak mempengaruhi keimanan dihatinya. Membuka pintu untuk orang-orang rusak melakukan kerusakan dalam agama dan tidak merasa terikat dengan perintah dan larangan syari’at. Sehingga akan memperbesar kerusakan dan kemaksiatan dimasyarakat muslimin. Bahkan bukan tidak mungkin membuat mereka melakukan kekufuran dan kesyirikan dengan beralasan itu adalah amalan dan tidak merasa imannya berkurang dan hilang. Na’udzubillahi min al-Dhalal!
5.      Menghilangkan unsur jihad fisabilillah dan amar ma`ruf nahi mungkar.
6.      Menyamakan antara orang shalih dengan yang tidak dan orang yang istiqamah diatas agama Allah dengan yang fasik. Sebab menurut versi mereka, amal shalih tidak mempengaruhi keimanan seseorang sebagaimana amal maksiat tidak mempengaruhi imam.[26]
Pemikiran Murji`ah ini membuka pintu bagi orang-orang jelek dan rusak untuk lepas dari din al Islam dan tidak terikat dengan perintah dan larangan syari’at, rasa takut dan khawatir dari Allah Ta’ala. juga menghilangkan sisi jihad fisabilillah dan amar ma`ruf nahi mungkar dan menyamakan antara yang shalih dengan yang thalih (tidak shalih), yang taat dengan yang maksiat dan yang istiqamah diatas agama Allah Ta’ala dengan yang fasik yang lepas dari perintah dan larangan syari’at selama amalan-amalan mereka tersebut tidak mempengaruhi iman seperti pernyataan versi mereka. Syaikhul Islam Rahimahullah berkata, ‘Para salaf terdahulu sangat keras pengingkaran mereka terhadap Murji`ah karena mereka mengeluarkan amalan dari iman dan tidak diragukan lagi bahwa pernyataan Murji`ah yang menyamakan iman manusia termasuk kesalahan yang sangat besar. Yang benar manusia tidak sama dalam tashdiq, cinta, takut dan ilmu bahkan berbeda-beda tingkatannya dari sisi yang banyak.’[27]

Mewaspadai Faham Murji’ah [28]
Faham Murji’ah telah muncul dan berkembang pada beberapa abad yang lalu. Dan sekarang mungkin tidak ada orang yang berfaham Murji’ah secara mutlak. Para ulama pun telah menjelaskan dan memperingatkan kepada umat atas kesesatan mereka. Namun bukan tidak mungkin bahaya laten Murji’ah akan muncul kembali. Terbukti ada sebagian golongan dari kaum muslimin pada saat ini yang mempunyai beberapa pemikiran yang sama dengan Murji’ah.
Murji’ah zaman sekarang walaupun mereka menyelisihi pendahulunya dalam penamaan iman dan definisinya saja, akan tetapi sesungguhnya mereka menyelarasi Murji’ah dahulu pada banyak konsekuensi definisi iman tersebut. Mereka, walaupun mendefinisikan iman dengan definisi yang shohih dan memasukkan di dalamnya uacapan dan perbuatan disamping I’tiqad ( keyakinan), pada hakikatnya masalahnya adalah mereka tidak mengkafirkan kecuali dengan I’tiqad ( keyakinan ) saja. Hal ini bisa kita lihat dari pemahaman mereka dalam memandang perbuatan kufur. Mereka memandang bahwa perbuatan kufur tidak menjadikan pelakunya kafir, dan tidak membahayakan keimanannya. Orang yang melakukan kekufuran tetap disebut sebagai seorang mu'min yang sempurna selama hatinya tidak istihlal ( menganggap halal perbuatannya ). Karena mereka hanya membatasi kekufuran dalam I’tiqad ( keyakinan ) atau juhud Qalbiy (pembangkangan ) atau istihlal ( menganggap halal perbuatannya) .













BAB III
ANALISIS

Pemikiran kalam Murji’ah merupakan salah satu aliran yang ditimbulkan akibat persoalan politik, tegasnya persoalan khilafah yang membawa perpecahan dikalangan umat Islam setelah Utsman bin Affan terbunuh.
Kaum khawarij yang pada mulanya adalah penyokong Ali, tetapi kemudian hari berbalik menjadi musuhnya. Karena ada perlawanan dari golongan kwarij ini, maka penyokong-penyokong yang tetap setia kepada Ali bertambah keras dan fanatik dalam membela Ali, sehingga akhirnya muncullah golongan pendukung Ali yang dikenal dengan nama golongan Syi’ah. Kefanatikan golongan ini terhadap Ali bertambah keras, terutama setelah Ali dibunuh oleh Ibn Muljam dari golongan Khawarij.
Dalam suasana pertentangan inilah maka timbul suatu golongan baru yang ingin bersifat netral, tidak mau turut dalam praktik kafir mengkafirkan, yang dikenal dengan golongan Murji’ah.
Banyak pendapat dari para ulama yang menyatakan bahwa aliran Murji’ah ini adalah sesat. Karena beberapa pemikirannya yang salah satunya mengenai iman. Mereka menganggap iman itu adalah mengenal Tuhan  dan Rasul-rasul-Nya saja. Jika kita sudah mengenal Tuhan dan Rasul-Nya maka itu sudah cukup, sudah menjadi mukmin. Mereka mengucapkan Syahadat cukup satu kali setelah itu apapun yang mereka lakukan meskipun mereka melakukan dosa besar, mereka tetap saja mukmin. Meskipun perbuatan itu menghina Allah dan Rasul-Nya. Orang yang telah iman dalam hatinya, tetapi ia kelihatan menyembah berhala atau membuat dosa-dosa besar yang lain, bagi kaum Murji’ah orang ini masih muk’min. Bagi mereka amal itu adalah nomor dua, dan amal itu tidak mempengaruhi iman. Jika kita melakukan maksiat maka itu tidak mempengaruhi iman seseorang. Pemikiran seperti ini dapat merusak aqidah seseorang. Maka banyak para ulama menyatakan bahwa aliran Murji’ah ini adalah sesat dan termasuk bid’ah.

Faham Murji’ah telah muncul dan berkembang pada beberapa abad yang lalu. Dan sekarang mungkin tidak ada orang yang berfaham Murji’ah secara mutlak. Para ulama pun telah menjelaskan dan memperingatkan kepada umat atas kesesatan mereka. Namun bukan tidak mungkin bahaya laten Murji’ah akan muncul kembali. Terbukti ada sebagian golongan dari kaum muslimin pada saat ini yang mempunyai beberapa pemikiran yang sama dengan Murji’ah.
Oleh karena itu, kita sebagai umat islam harus bisa memahami mana ajaran islam yang benar-benar sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad SAW mana yang menyimpang dan kita juga harus terus berpegang teguh kepada Al-qur’an dan Al-hadits agar kita bisa tetap terus dijalan Allah.

BAB IV
PENUTUP


A.    SIMPULAN
Murji’ah diambil dari kata irja atau arja’a. Ada beberapa pendapat tentang arti arja’a, diantaranya ialah:
a)            Menurut Ibn ‘Asakir, dalam uraiannya tentang asal-usul kaum Murji’ah mengatakan bahwa arja’a berarti menunda.
b)            Ahmad Amin dalam kitabnya Fajr al-Islam mengatakan bahwa arja’a juga mengandung arti membuat sesuatu, mengambil tempat-tempat dibelakang, dalam arti memandang sesuatu kurang penting.
c)            Selanjutnya, Ahmad Amin juga mengatakan bahwa arja’a juga mengandung arti memberi pengharapan.
d)            Al Azhari menyebutkan perihal kata-kata Raja’ yang mempunyai arti ‘takut’ yaitu apabila  lafadz Raja’ bersama dengan huruf  naïf.
Dari pengertian-pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa pemikiran kalam Murji’ah merupakan suatu aliran yang berpendapat bahwa orang yang melakukan dosa besar tidaklah menjadi kafir, akan tetapi tetap mukmin. Dan urusan dosa besar yang telah dilakukan ditunda penyelesaiannya sampai hari kiamat.
munculnya aliran ini di latar belakangi oleh persoalan politik, yaitu persoalan khilafah (kekhalifahan). Setelah terbunuhnya Khalifah Usman bin Affan, umat Islam terpecah kedalam dua kelompok besar, yaitu kelompok Ali dan Mu’awiyah. Kelompok Ali lalu terpecah pula kedalam dua golongan, yaitu golongan yang setia membela Ali (disebut Syiah) dan golongan yang keluar dari barisan Ali (disebut Khawarij). Ketika berhasil mengungguli dua kelompok lainnya, yaitu Syiah dan Khawarij, dalam merebut kekuasaan, kelompok Mu’awiyah lalu membentuk Dinasti Umayyah. Syi’ah dan Khawarij bersama-sama menentang kekuasaannya. Syi’ah menentang Mu’awiyah karena menuduh Mu’awiyah merebut kekuasaan yang seharusnya milik Ali dan keturunannya. Sementara itu Khawarij tidak mendukung Mu’awiyah karena ia dinilai menyimpang dari ajaran Islam. Dalam pertikaian antara ketiga golongan tersebut terjadi saling mengafirkan. Di tengah-tengah suasana pertikaian ini muncul sekelompok orang yang menyatakan diri tidak ingin terlibat dalam pertentangan politik yang terjadi. Kelompok inilah yang kemudian berkembang menjadi golongan Murji’ah. Bagi mereka sahabat-sahabat yang terlibat dalam pertentangan karena peristiwa tahkim itu tetap mereka anggap sebagai sahabat-sahabat Nabi yang dapat dipercaya keimanannya. Oleh karena itu mereka tidak menyatakan siapa yang sebenarnya salah, tetapi mereka lebih baik menunda persoalan tersebut, dan menyerahkannya kepada tuhan pada hari perhitungan di hari kiamat nanti, apakah mereka menjadi kafir atau tidak.
Doktrin-doktrin Murjiah dapat disimpulkan sebagai berikut:
r  Penangguhan hukum atas Ali, Muawiyah, Amr bin Ash, dan Musa al Asy ‘ary yang terlibat tahkim
r  Iman itu adalah tashdiq ( pembenaran ) saja, atau pengetahuan hati atau ikrar.
r  Amal tidak masuk dalam hakekat iman dan tidak masuk dalam bagiannya.
r  Iman tidak bisa berkurang atau bertambah.
r  Orang yang bermaksiat dikatakan mukmin yang sempurna imannya.
r  Manusia pencipta amalnya sendiri dan Allah tidak dapat melihatnya di akhirat nanti ( ini seperti faham mu’tazilah ).
r  Sesungguhnya imamah ( khalifah ) itu boleh datang dari golongan mana saja walaupun bukan dari Quraisy.
r  Iman adalah mengena Allah secara mutlak, dan bodoh kepada Allah adalah kufur kepada – NYA
Tokoh-tokoh aliran Murji’ah adalah: Jahm bin Shufwan, Abu Musa, Ash-Shalahi, Yunus As-Samary, Abu Smar dan Yunus, Abu Marwan Al-Ghailan bin Marwan Ad-Dimasqy, Abu Syauban, Al-Husain bin Muhammad An-Najr, Abu Haifah An-Nu’man, Muhammad bin Syabib, Mu’adz Ath-Thaumi, Muhammad bin Karam As-Sijistany, Basr Al-Murisy.
Menurut Harun Nasution, sekte-sekte Murji’ah dibagi menjadi dua golongan yaitu, golongan moderat dan golongan ekstrim. Ibnul Jauzi mengatakan  bahwa Murji’ah terbagi menjadi  11 bagian yaitu At Tarikah, As Saibiah, Ar Raji’ah, Asy- Syakiah, Baihasyiah  (nisbah pada  Baihasy bin Haisham), Manqushiah , Mustatsniah, Musyabbihah, Hasyawiah, Bid’iyyah, Dzahiriyah . Ghalib  Ali Awwaji mengatakan bahwa Murji’ah dibagi menjadi 6 bagian yaitu Murji’ah sunnah, Murji’ah Jabariyah, Murji’ah Qadariyyah, Murji’ah Murni, Murji’ah  Karamiah, Murji’ah Khawarij.
Implikasi buruk pemikiran kaum Murji’ah dalam kehidupan sehari-hari, diantaranya:
1.      Sebagai satu kebid’ahan, maka Murji`ah bila masuk dalam aqidah kaum muslimin dapat memporak-porandakan persatuan dan kesatuannya.
2.      Membuat pemilik aqidahnya masuk dalam 72 golongan yang diancam masuk neraka.
3.      Pemikiran Murji’ah akan menimbulkan celaan dari banyak ulama.
4.      Meyakini bahwa amalan tidak mempengaruhi imannya, sehingga banyak orang menyatakan bahwa yang penting adalah hatinya dalam berbuat kemaksiatan seakan-akan perbuatan tersebut tidak mempengaruhi keimanan dihatinya.
5.      Menghilangkan unsur jihad fisabilillah dan amar ma`ruf nahi mungkar.
6.      Menyamakan antara orang shalih dengan yang tidak dan orang yang istiqamah diatas agama Allah dengan yang fasik.

B.     SARAN
Umumnya orang berpikir, apabila mempelajari ilmu kalam itu akan menyebabkan seseorang menjadi sesat padahal Mempelajari pemikiran kalam sangat diperlukan untuk menambah wawasan kita terhadap agama yang kita anut sehingga menambah keyakinan kita akan agama kita.
Oleh karena itu, menurut kami janganlah mudah terpengaruh terhadap pemikiran-pemikiran yang baru kita ketahui, apalagi pemikiran tersebut keluar dari pokok-pokok ajaran Islam (Al-Qur’an dan Al-Hadits).
DAFTAR PUSTAKA


Abbas, Siradjuddin. 1991. I’itiqad Ahlussunah Wal-Jama’ah. Jakarta: Pustaka Tarbiyah.
Anwar, Rosihon dan Abdul Rozak. 2003. Ilmu Kalam. Bandung: Pustaka Setia.
Basri, Hasan dkk. 2007. Ilmu Kalam Sejarah dan Pokok Pikiran Aliran-Aliran. Bandung: Azkia Pustaka Utama.
Hanafi.1987. Teologi Islam. Jakarta: Pustaka Al-husna.
Nasution, Harun. 2002. Teologi Islam. Jakarta: Universitas Indonesia Press.
Nasution, Harun. 2009. Teologi Islam Aliran-aliran Sejarah Analisa Perbandingan. Jakarta: Universitas Indonesia Press.
Nata, Abuddin. 1994. Ilmu Kalam, Filsafat, dan Tasawuf. Jakarta: RajaGrafindo Persada.
Rohanda. 2006. Ilmu Kalam dari Klasik sampai Kontemporer. Bandung: Najwa Press.
Syaikh Mahmud Syaltuut, Tahqiq Syaikh Ali Hasan. Al-Bid’ah Asbaabuha wa Madhoruh cetakan kedua tahun 141H. Dar Ibnu al-Jauzi,
http//aanchoto.sman1ampekangkek.com
http://abuzahrakusnanto.wordpress.com
http://alimabalbantuliy.blogspot.com
http://ibnugolun.multyply.com
http://motipasti.wordpress.com
http://www.ashabulkahfi.com



[1] Hasan Basri, dkk.ilmu kalam sejarah dan pokok pikiran aliran-aliran.hal.25
[2] http://www.ashabulkahfi.com

[3] Rosihon Anwar dan Abdul Rojak. Ilmu kalam. Hal. 56-57.
[4] http//aanchoto.sman1ampekangkek.com
[5] . An Nisaa’ / 4 : 48
[6] . Az Zumar  / 39: 53
[7] . Al Mujadalah / 58: 22
[8] . An Nahl / 16 : 106
[9] . Al Baqaraah / 2 : 7
[10] . HR Bukhari dan Muslim, Shahih Muslim, hadits no. 268-269
[11] . HR. Imam Muslim
[12] . HR. Ahmad
[13] . HR. Ahmad  dan Muslim
[14] . HR. Muslim
[15] . HR. Muslim
[16] . Firaq Muashirah, Ghalib Ali ‘Awaji 2 / 763-766
[17] Rosihon Anwar dan Abdul Rojak. Op.cit. hal.58
[18] Ibid. hal.59
[19]Nasution, Teologi Islam. Hlm. 22
[20] http://motipasti.wordpress.com
[21] ibid
[22]Al Inhirafat  Al ‘Aqdiyah wal Amaliyah : 119-120
[23] http://ibnugolun.multyply.com
[24] Hasan Basri dkk.Ilmu Kalamsejarah dan Pokok Pikiran Aliran-aliran.Hal.28.
[25] Rosihan dan Abdul Rojak. Ilmu kalam. Hal.60-61
[26] http://abuzahrakusnanto.wordpress.com
[27]http://alimabalbantuliy.blogspot.com
[28]http://www.ashabulkahfi.com

sumber:http://narumaharumi.blogspot.com/2012/02/ilmu-kalam-murjiah.html

0 comments:

Post a Comment